Sabtu, 24 Oktober 2015

Asap



Baru saja sekitar satu minggu kau menghilang setelah sebelumnya selama kurang lebih dua bulan lamanya kau hadir dan kini kau kembali hadir ditengah-tengah kehidupan kami. Kau sungguh sangat tidak kami harapkan dan kami ingin kan, tapi kau tetap saja terus hadir dikehidupan kami saat ini. Kau sungguh menyiksa kami, bahkan hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
Seperti semua orang ketahui, kau adalah ASAP, yaa asap... yang muncul dari perbuatan tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Yang hanya mau menggambil untung sebanyak-banyaknya guna untuk kepentingan pribadi tanpa mau melihat dampak dari semua kesalahan yang dibuatnya. Membuat semua orang merasakan dampak dari apa yang telah diperbuatnya, dan membuat seluruh daerah kami diselimuti asap. Juga banyak mendatangkan masalah-masalah lainnya seperti terhambatnya laju perekonomian, timbulnya berbagai penyakit yang menyerang masyarakat luas dan sampai menimbulkan korban jiwa, terhambatnya transportasi baik dari udara, laut dan juga darat karena batas pandang yang cukup menghalangi pengelihatan.
Asap, kau bagaikan mimpi buruk bagi kami karena tidak kami harapkan untung hadir dikehidupan kami dan juga kau belum juga membuat kami tenang dengan cara pergi dari kehidupan kami.

Minggu, 11 Oktober 2015

Seperti "Mengenalnya"

Kejadiannya sangat cepat dan aku seperti tersihir melihat mobil yang semakin melaju kencang ke arahku dan langsung menabrak aku. Seketika itu juga pandanganku menghitam, dan aku juga tidak ingat lagi apa yang terjadi.
Ketika aku sadar dan melihat sekeliling, aku bingung mengapa berada di ruangan serba putih dan bau obat-obatan ini. Aku tidak ingat apa yang tejadi padaku sehingga aku berada di ruangan ini. Tiba-tiba saja ada dua orang yang masuk dan terlihat begitu senang melihatku, dan aku mengenal salah satu dari orang itu yaitu sahabatku Fika. Tapi aku tidak mengenal orang yang satunya lagi, dan orang itu pun langsung mendekatiku.
“Syukurlah Key kamu sudah sadar.” kata orang itu dengan senangnya.
Tapi aku sama sekali tidak tahu siapa orang ini, aku pun berkata, “Maaf kamu siapa ya??”
***
Aku baru saja selesai bersiap-siap ketika mama mengetuk pintu kamar dan mengatakan bahwa Fika sudah datang dan menungguku di bawah. Aku langsung keluar kamar dan segera menemuinya.
“Cepat banget sih jemputnya?” kataku begitu melihat Fika.
“Bukan aku yang cepat, tapi kamu yang lama siap-siapnya.” Katanya sambil keluar rumah.
“Ya udah yuk kita pergi.”
Hari ini Fika sengaja menjemputku untuk pergi kuliah bersama, karena setelah pulang kuliah Fika mengajakku pergi.
Setelah sampai di kampus, kami pun langsung masuk ke dalam kelas karena sebentar lagi perkuliahan akan di mulai. Ketika sedang asik mendengarkan penjelasan dosen di depan kelas, Fika mengajakku berbicara.
“Apa sih Fi?” kataku tanpa mengalihkan pandangan dari depan kelas.
“Aku bosan tau, habisnya dari tadi bapak itu menjelaskannya nda jelas sih bentar-bentar teori lalu cerita tentang kehidupannya. Tu liat yang lain pada tidur.” kata Fika sambil melihat seisi kelas.
“Udahlah Fi sepuluh menit lagi juga selesai.” kataku sambil melihat jam.
Tidak lama kemudian pun kami keluar kelas dan langsung menuju kantin. Di kantin Fika pun bercerita bahwa dia tadi melihat Rio sedang berjalan dengan seorang wanita. Aku pun menganggap biasa karena sudah tidak ada hubungan lagi dengannya.
“Key kok nda pesan makan sih?” kata Fika dengan mulut penuh makanan.
“Nda ahh aku masih kenyang, kalau ngomong makanannya dihabiskan dulu bisa kali.” kataku sambil tertawa geli.
Setelah selesai makan di kantin kami pun bergegas pergi dan menuju parkiran, ketika aku menunggu Fika tiba-tiba saja datang seseorang yang sangat tidak aku duga. Orang yang selama dua tahun ini pergi dari kehidupan aku tanpa ada perpisahan dan tiba-tiba saja hadir di hadapan aku. Yang selama menghilang tidak ada kabar sama sekali, dengan seenaknya saat ini muncul begitu saja di hadapan aku.
Aku pun langsung bergegas meninggalkan tempat parkir tanpa berfikir lama, dan lupa bahwa aku sedang menunggu Fika.
“Key...Keyla.... tunggu aku mau ngomong sama kamu.” kata Fito sambil menarik tangan aku.
“Lepaskan, mau apalagi kamu datang ke sini?” kataku tanpa melihatnya.
“Dengerin aku dulu, aku mau jelaskan sama kamu apa yang terjadi selama ini.”
“Udah nda ada yang perlu dijelaskan lagi.”
“Kamu nda mau tau kenapa aku tiba-tiba saja pergi?”
“Aku nda perlu mendengarkan penjelasan kamu lagi.” kataku tetap tidak mau melihatnya.
“Terserah kalau kamu nda mau liat aku, tapi asal kamu tau kenapa aku tiba-tiba saja pergi dari kamu karena kita itu saudara. Kita tidak bisa bersama karena kita kakak adik.” kata Fito sambil berteriak.
Aku pun terkejut mendengar perkataan Fito, “Kamu bohong, mana mungkin kita saudaraa.”
“Kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanya ke papa kamu, dia papa aku juga.” kata Fito pasrah.
Aku terdiam dan tidak bisa menerima semua ini, saat itu juga aku berlari meninggalkan Fito. Aku berlari tanpa arah, tiba-tiba saja aku sudah sampai di tengah jalan dan tersadar saat banyak suara yang meneriakkan aku. Saat tersadar aku melihat sebuah mobil yang cepat melaju menuju tempat di mana aku berdiri saat ini.
Kaki ini tetap tidak bisa digerakkan dan aku pasrah akan apa yang akan terjad selanjutnya. Aku hanya bisa berdoa bahwa apa yang terjadi barusan adalah sebuah mimpi, dan aku ingin bisa melupakan kenyataan yang baru saja aku ketahui.
Kejadiannya sangat cepat dan seperti tersihir melihat mobil semakin melaju kencang ke arahku dan langsung menabrak aku. Seketika itu juga pandanganku menghitam, dan aku juga tidak ingat lagi apa yang terjadi.
***
Kejadiannya sangat cepat dan aku seperti tersihir melihat mobil yang semakin melaju kencang ke arahku dan langsung menabrak aku. Seketika itu juga pandanganku menghitam, dan aku juga tidak ingat lagi apa yang terjadi.
Ketika aku sadar dan melihat sekeliling, aku bingung mengapa berada di ruangan serba putih dan bau obat-obatan ini. Aku tidak ingat apa yang tejadi padaku sehingga aku berada di ruangan ini. Tiba-tiba saja ada dua orang yang masuk dan terlihat begitu senang melihatku, dan aku mengenal salah satu dari orang itu yaitu sahabatku Fika. Tapi aku tidak mengenal orang yang satunya lagi, dan orang itu pun langsung mendekatiku.
“Syukurlah Key kamu sudah sadar.” kata orang itu dengan senangnya.
Tapi aku sama sekali tidak tahu siapa orang ini, aku pun berkata, “Maaf kamu siapa ya??”

“Kamu mau minum Key?” kata Fika menyadarkan aku dari lamunan.
“Iya Fi makasih ya.” kata ku sambil meminum air.
“Kalau kamu lupa jangan dipaksain Key, nanti kepala kamu sakit.” kata Fika sambil mengambil gelasku.
Sesaat aku bisa melihat raut wajah orang itu berubah ketika aku mengatakan bahwa tidak mengenalnya
Tiba-tiba saja orang itu mengatakan kepada Fika bahwa dia mau keluar, dan juga tersenyum kepadaku. Aku juga membalas senyumnya, tapi aku tetap tidak tahu siapa dia.
***

Dua hari kemudian akupun diperbolehkan pulang oleh dokter, dengan syarat aku tidak boleh banyak memikirkan sesuatu karena kata dokter sebagian ingatanku hilang sehingga aku harus banyak istirahat.
Fika juga ikut menjemputku ke rumah sakit, dan aku juga melihat orang itu hadir diantara orangtuaku. Tadi papa bilang dia adalah kakakku namanya Fito, tapi dia tidak tinggal bersama kita. Ketika aku tanya lagi, papa tidak mau menceritakannya.
Dan aku pun kembali menjalani hari-hariku, juga masih berusaha mengingat-ingat siapa Fito ini, karena aku tidak yakin bahwa antara aku dan dia hanya kakak adik. Hatiku bilang bahwa ada sesuatu yang lain. Juga semakin meyakinkanku karena setiap Fito menatapku, aku melihat ada tatapan sedih di matanya.
Setiap bertemu Fito, seakan-akan ada sesuatu yang ingin diucapkannya padaku tapi hal itu hanya terlihat dari tatapannya. Dia jarang sekali berbicara denganku, ketika datang kerumah Fito hanya datang sebentar menemui papa.
Begitu pula dengan Fika ketika aku tanya siapa itu Fito, dia langsung tiba-tiba saja terdiam dan langsung berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku tidak tau lagi harus bertanya pada siapa, karena ketika aku baru akan menanyakan tentang Fito semuanya seakan-akan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Aku hanya berharap agar ingatanku pulih dan tau apa yang sebenarnya terjadi, sebelum aku mengalami kecelakaan. Biarlah Fito menjadi teka-teki dalam fikiranku sampai aku benar-benar bisa mengingat lagi.
***

Fea

Suara kicauan burung-burung yang begitu merdu seperti mengerti bahwa pagi ini adalah hari yang sangat begitu indah, dan sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarnya membuat Fea terjaga dari tidurnya.
Seperti biasa bagi sebagian orang hari Senin adalah hari yang tidak disukai, dimana pada hari ini semua orang akan memulai aktivitas setelah sebelumnya merupakan hari untuk melepas semua hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan selama seminggu ini.Begitu pula dengan Fea yang begitu enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya, dengan berat hati dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke kampus karena hari ini dia ada jadwal kuliah pagi.
Sesampainya di kampus Fea pun langsung menuju kelasnya, dan melihat ada sahabatnya yang sudah duduk manis di kursinya.
“Hai Ta, lagi ngapain sih???” ujar Fea mengagetkan Tita.
“Ihhh Fea buat kaget aja sih, orang lagi serius juga.”
“Emang lagi ngapain sih, pagi-pagi uda rajin aja buka-buka buku?”
“Nggak lupakan kalau hari ini ada kuis???” kata Tita dengan santai.
“Apaaa...??? aku lupa nih.”
Tepat pada saat itu dosen yang akan mengajar di kelas Fea pun datang dan langsung menjelaskan ketentuan kuis hari ini juga membagikan soal-soalnya.
***
Saat ini Fea sedang duduk di taman kampus sambil menyesali perbuatannya karena lupa bahwa hari ini akan ada kuis, padahal dia termasuk mahasiswa yang rajin dan disiplin. Dia lupa karena lelah sekali setelah pulang dari jalan-jalan bersama teman-teman sekolahnya dulu dan langsung tidur, tanpa ingat sama sekali bahwa dia harus belajar untuk persiapan kuis hari ini.
“Sudahlah Fe, masih bisa diperbaiki kok. Nih minumnya.” Kata Tita sambil menyerahkan minuman ke Fea.
“Tapi Ta, tadi aku sama sekali nggak bisa ngerjain soal-soalnya. Makasih ya.” Jawab Fea dengan putus asa sambil meminum minumannya,
“Emang tadi malam ngapain aja sih, nggak biasa-biasanya sampai lupa untuk belajar??? Bukan Fea yang biasanya nih, yang selalu ngingatin aku kalau ada tugas.”
“Aku habis jalan-jalan sama teman-teman sekolah, aku kan nggak selalu ingat Ta, aku benar-benar lupa.”
Saat itu datang temannya memberitahukan bahwa dia dipanggil untuk menemui bu Riani dosen yang tadi memberinya kuis, Fea pun bergegas menemuinya.
Karena terlalu terburu-buru Fea pun tidak melihat bahwa didepannya ada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya, sehingga mereka pun bertabrakkan dan buku-buku yang dibawa orang itu jatuh di lantai.
“Maaf....maaf... aku nggak sengaja.” Kata Fea sambil membantu membereskan buku-buku yang berserakan tanpa melihat siapa orang yang ditabraknya itu.
“Udah aku bisa sendiri kok, makasih ya.”
“Ini salah akau karena jalannya nggak liat-liat tadi.” Sambil menyerahkan buku-buku yang ada ditangannya kepada pemiliknya lalu terpaku ketika tau siapa yang ditabraknya.
Fea pun tetap diam di tempatnya walaupun orang itu telah berlalu, tiba-tiba dia sadar dan bergegas pergi menemui bu Riani.
Setelah selesai menemui bu Riani, Fea pun kembali ke taman menemui Tita yang sedang menunggunya sambil tersenyum senang.
“Ta...Ta... tau nggak tadi aku di suruh apa sama bu Riani???”
“Kenapa sih datang-datang senang gitu, tadi aja murung. Ya nggak tau lah emangnya aku dukun???”
“Ihh Tita serius nih, Tadi waktu aku mau ke ruangan bu Riani aku tabrakan sama Faris, lalu tadi bu Riani memintaku untuk mengerjakan proposal sama dia.”
“Serius Fe??? Wah yang lagi seneng nih, udah lupa sama kuisnya tadi??!”
“Ya seriuslah, iya dong bu Riani juga bilang kalau kuisnya hanya sebagai tes dan nggak akan diambil nilainya.”
“Yes, coba dari tadi aku kan nggak pusing-pusing buat belajar.”
“Ya udah lah, yuk ke kelas bentar lagi masuk nih” sambil berjalan.
Fea pun terus memikirkan bagaimana nanti ketika dia membuat proposal bersama Faris, yang dikenal selama ini sebagai orang yang cuek, dingin dengan orang, tapi sangat pintar itu. Ya dibawa santai sajalah begitu fikirnya, sambil bergabung dengan teman-temannya yang lain.
***