Kejadiannya sangat cepat dan aku seperti tersihir melihat mobil yang semakin melaju kencang ke arahku dan langsung menabrak aku. Seketika itu juga pandanganku menghitam, dan aku juga tidak ingat lagi apa yang terjadi.
Ketika aku sadar dan melihat sekeliling, aku bingung mengapa berada di ruangan serba putih dan bau obat-obatan ini. Aku tidak ingat apa yang tejadi padaku sehingga aku berada di ruangan ini. Tiba-tiba saja ada dua orang yang masuk dan terlihat begitu senang melihatku, dan aku mengenal salah satu dari orang itu yaitu sahabatku Fika. Tapi aku tidak mengenal orang yang satunya lagi, dan orang itu pun langsung mendekatiku.
“Syukurlah Key kamu sudah sadar.” kata orang itu dengan senangnya.
Tapi aku sama sekali tidak tahu siapa orang ini, aku pun berkata, “Maaf kamu siapa ya??”
***
Aku baru saja selesai bersiap-siap ketika mama mengetuk pintu kamar dan mengatakan bahwa Fika sudah datang dan menungguku di bawah. Aku langsung keluar kamar dan segera menemuinya.
“Cepat banget sih jemputnya?” kataku begitu melihat Fika.
“Bukan aku yang cepat, tapi kamu yang lama siap-siapnya.” Katanya sambil keluar rumah.
“Ya udah yuk kita pergi.”
Hari ini Fika sengaja menjemputku untuk pergi kuliah bersama, karena setelah pulang kuliah Fika mengajakku pergi.
Setelah sampai di kampus, kami pun langsung masuk ke dalam kelas karena sebentar lagi perkuliahan akan di mulai. Ketika sedang asik mendengarkan penjelasan dosen di depan kelas, Fika mengajakku berbicara.
“Apa sih Fi?” kataku tanpa mengalihkan pandangan dari depan kelas.
“Aku bosan tau, habisnya dari tadi bapak itu menjelaskannya nda jelas sih bentar-bentar teori lalu cerita tentang kehidupannya. Tu liat yang lain pada tidur.” kata Fika sambil melihat seisi kelas.
“Udahlah Fi sepuluh menit lagi juga selesai.” kataku sambil melihat jam.
Tidak lama kemudian pun kami keluar kelas dan langsung menuju kantin. Di kantin Fika pun bercerita bahwa dia tadi melihat Rio sedang berjalan dengan seorang wanita. Aku pun menganggap biasa karena sudah tidak ada hubungan lagi dengannya.
“Key kok nda pesan makan sih?” kata Fika dengan mulut penuh makanan.
“Nda ahh aku masih kenyang, kalau ngomong makanannya dihabiskan dulu bisa kali.” kataku sambil tertawa geli.
Setelah selesai makan di kantin kami pun bergegas pergi dan menuju parkiran, ketika aku menunggu Fika tiba-tiba saja datang seseorang yang sangat tidak aku duga. Orang yang selama dua tahun ini pergi dari kehidupan aku tanpa ada perpisahan dan tiba-tiba saja hadir di hadapan aku. Yang selama menghilang tidak ada kabar sama sekali, dengan seenaknya saat ini muncul begitu saja di hadapan aku.
Aku pun langsung bergegas meninggalkan tempat parkir tanpa berfikir lama, dan lupa bahwa aku sedang menunggu Fika.
“Key...Keyla.... tunggu aku mau ngomong sama kamu.” kata Fito sambil menarik tangan aku.
“Lepaskan, mau apalagi kamu datang ke sini?” kataku tanpa melihatnya.
“Dengerin aku dulu, aku mau jelaskan sama kamu apa yang terjadi selama ini.”
“Udah nda ada yang perlu dijelaskan lagi.”
“Kamu nda mau tau kenapa aku tiba-tiba saja pergi?”
“Aku nda perlu mendengarkan penjelasan kamu lagi.” kataku tetap tidak mau melihatnya.
“Terserah kalau kamu nda mau liat aku, tapi asal kamu tau kenapa aku tiba-tiba saja pergi dari kamu karena kita itu saudara. Kita tidak bisa bersama karena kita kakak adik.” kata Fito sambil berteriak.
Aku pun terkejut mendengar perkataan Fito, “Kamu bohong, mana mungkin kita saudaraa.”
“Kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanya ke papa kamu, dia papa aku juga.” kata Fito pasrah.
Aku terdiam dan tidak bisa menerima semua ini, saat itu juga aku berlari meninggalkan Fito. Aku berlari tanpa arah, tiba-tiba saja aku sudah sampai di tengah jalan dan tersadar saat banyak suara yang meneriakkan aku. Saat tersadar aku melihat sebuah mobil yang cepat melaju menuju tempat di mana aku berdiri saat ini.
Kaki ini tetap tidak bisa digerakkan dan aku pasrah akan apa yang akan terjad selanjutnya. Aku hanya bisa berdoa bahwa apa yang terjadi barusan adalah sebuah mimpi, dan aku ingin bisa melupakan kenyataan yang baru saja aku ketahui.
Kejadiannya sangat cepat dan seperti tersihir melihat mobil semakin melaju kencang ke arahku dan langsung menabrak aku. Seketika itu juga pandanganku menghitam, dan aku juga tidak ingat lagi apa yang terjadi.
***
Kejadiannya sangat cepat dan aku seperti tersihir melihat mobil yang semakin melaju kencang ke arahku dan langsung menabrak aku. Seketika itu juga pandanganku menghitam, dan aku juga tidak ingat lagi apa yang terjadi.
Ketika aku sadar dan melihat sekeliling, aku bingung mengapa berada di ruangan serba putih dan bau obat-obatan ini. Aku tidak ingat apa yang tejadi padaku sehingga aku berada di ruangan ini. Tiba-tiba saja ada dua orang yang masuk dan terlihat begitu senang melihatku, dan aku mengenal salah satu dari orang itu yaitu sahabatku Fika. Tapi aku tidak mengenal orang yang satunya lagi, dan orang itu pun langsung mendekatiku.
“Syukurlah Key kamu sudah sadar.” kata orang itu dengan senangnya.
Tapi aku sama sekali tidak tahu siapa orang ini, aku pun berkata, “Maaf kamu siapa ya??”
“Kamu mau minum Key?” kata Fika menyadarkan aku dari lamunan.
“Iya Fi makasih ya.” kata ku sambil meminum air.
“Kalau kamu lupa jangan dipaksain Key, nanti kepala kamu sakit.” kata Fika sambil mengambil gelasku.
Sesaat aku bisa melihat raut wajah orang itu berubah ketika aku mengatakan bahwa tidak mengenalnya
Tiba-tiba saja orang itu mengatakan kepada Fika bahwa dia mau keluar, dan juga tersenyum kepadaku. Aku juga membalas senyumnya, tapi aku tetap tidak tahu siapa dia.
***
Dua hari kemudian akupun diperbolehkan pulang oleh dokter, dengan syarat aku tidak boleh banyak memikirkan sesuatu karena kata dokter sebagian ingatanku hilang sehingga aku harus banyak istirahat.
Fika juga ikut menjemputku ke rumah sakit, dan aku juga melihat orang itu hadir diantara orangtuaku. Tadi papa bilang dia adalah kakakku namanya Fito, tapi dia tidak tinggal bersama kita. Ketika aku tanya lagi, papa tidak mau menceritakannya.
Dan aku pun kembali menjalani hari-hariku, juga masih berusaha mengingat-ingat siapa Fito ini, karena aku tidak yakin bahwa antara aku dan dia hanya kakak adik. Hatiku bilang bahwa ada sesuatu yang lain. Juga semakin meyakinkanku karena setiap Fito menatapku, aku melihat ada tatapan sedih di matanya.
Setiap bertemu Fito, seakan-akan ada sesuatu yang ingin diucapkannya padaku tapi hal itu hanya terlihat dari tatapannya. Dia jarang sekali berbicara denganku, ketika datang kerumah Fito hanya datang sebentar menemui papa.
Begitu pula dengan Fika ketika aku tanya siapa itu Fito, dia langsung tiba-tiba saja terdiam dan langsung berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku tidak tau lagi harus bertanya pada siapa, karena ketika aku baru akan menanyakan tentang Fito semuanya seakan-akan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Aku hanya berharap agar ingatanku pulih dan tau apa yang sebenarnya terjadi, sebelum aku mengalami kecelakaan. Biarlah Fito menjadi teka-teki dalam fikiranku sampai aku benar-benar bisa mengingat lagi.
***